Sidorejo, Lumajang — Upaya menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman bagi anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Muhammadiyah Lumajang bersama jamaah Masjid Umar bin Khattab turun langsung melakukan kerja bakti. Mereka bergotong royong menata dan meratakan tanah yang akan digunakan sebagai bagian dari ruang belajar TPA, Kamis (6/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus bagian dari upaya mendukung keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak di lingkungan Masjid Umar bin Khattab. Penataan ruang dilakukan agar aktivitas belajar mengaji dapat berlangsung di lingkungan yang lebih bersih, tertata, dan nyaman.
Mahasiswa KKN bersama sejumlah jamaah masjid terlibat langsung dalam proses pembenahan. Salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah ngebruk, istilah yang digunakan masyarakat setempat untuk kegiatan penataan dan perataan tanah pada area yang akan dimanfaatkan sebagai ruang TPA.
Tanah dipindahkan menggunakan gerobak dorong, kemudian diratakan secara bersama-sama dengan peralatan sederhana. Meski dilakukan dengan sarana terbatas, kegiatan berlangsung dalam suasana gotong royong dan melibatkan mahasiswa serta masyarakat secara langsung.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas atau aktivitas keagamaan, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap kebutuhan masyarakat. Bagi mahasiswa, kerja bakti menjadi ruang untuk membangun kedekatan sosial sekaligus memahami persoalan dan kebutuhan warga secara langsung.
Salah seorang jamaah Masjid Umar bin Khattab, Damiri, menilai kehadiran mahasiswa KKN seharusnya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Mahasiswa KKN tidak hanya mengajar mengaji dan menyampaikan khotbah, tetapi juga harus mampu terjun langsung ke masyarakat. Kalau ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga, mahasiswa juga harus bisa mencangkul, ikut kerja bakti, dan membantu masyarakat. Dengan begitu, keberadaan mahasiswa benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujar Damiri.
Pandangan tersebut memperlihatkan harapan masyarakat agar program KKN tidak berhenti pada kegiatan yang bersifat seremonial. Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu menyentuh berbagai aspek kehidupan warga, termasuk pendidikan, sosial, keagamaan, hingga lingkungan.
Foto kebersamaan Mahasiswa KKN dengan para jamaah Masjid Umar bin Khattab gotong royong mengangkut tanah
Dalam konteks pendidikan, pembenahan ruang TPA memiliki arti penting. Ruang belajar yang bersih dan tertata dapat menjadi salah satu unsur pendukung terciptanya suasana belajar yang lebih nyaman bagi anak-anak. Di tempat tersebut, mereka tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga memperoleh pendidikan keagamaan dan pembiasaan nilai-nilai moral sejak dini.
Bagi mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Lumajang, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman pembelajaran di luar kampus. Mereka belajar bahwa pengabdian kepada masyarakat membutuhkan keterlibatan, kepedulian, dan kemauan untuk bekerja bersama warga dalam menyelesaikan kebutuhan yang ada di lingkungan sekitar.
Melalui kerja bakti tersebut, mahasiswa KKN dan jamaah Masjid Umar bin Khattab berharap penataan ruang TPA dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi anak-anak yang belajar mengaji. Lebih dari sekadar meratakan tanah, gotong royong tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama membangun ruang pendidikan yang lebih layak sekaligus memperkuat semangat kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat.
Jurnalis Alfian Rizki Nur Majid