Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan ini bertujuan memetakan kondisi serta kebutuhan pembinaan santri non-asrama sebagai dasar penyusunan program kerja yang relevan dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil observasi dan diskusi, terdapat dua aspek utama yang menjadi perhatian. Yaitu, perlunya penguatan adab dan etika santri terhadap guru. Dinamika kehidupan di luar lingkungan asrama dinilai memengaruhi pembentukan karakter sehingga diperlukan pembinaan yang lebih intensif untuk menanamkan sikap hormat, sopan santun, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, tim KKN juga menemukan bahwa sebagian santri non-asrama masih memerlukan pendampingan dalam memahami fiqih ibadah dasar, khususnya tata cara berwudhu dan pelaksanaan salat sesuai dengan tuntunan syariat. Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama agar pembelajaran agama tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bapak Subhan menegaskan bahwa pembinaan terhadap santri non-asrama memerlukan kolaborasi berbagai pihak.
"Penting bagi kita untuk merangkul anak-anak non-asrama. Mereka membutuhkan pendampingan yang intensif agar tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki adab yang baik serta mampu menjalankan ibadah dengan benar," ujarnya.
Hasil observasi tersebut kemudian menjadi pijakan bagi mahasiswa KKN dalam menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tim KKN merencanakan berbagai kegiatan pembinaan, di antaranya pendampingan praktik fiqih ibadah melalui mentoring wudhu dan salat, serta penguatan pendidikan karakter dengan membiasakan nilai-nilai adab dan penghormatan kepada guru dalam setiap aktivitas pembelajaran.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk karakter santri yang berakhlak mulia.
Melalui sinergi antara pengelola Rumah Tahfidz Non-Asrama, para guru, dan mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Lumajang, hasil observasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menghadirkan program pengabdian yang lebih tepat sasaran. Selain memberikan solusi atas kebutuhan yang ditemukan di lapangan, kegiatan ini juga mencerminkan pentingnya perencanaan berbasis data sebagai fondasi pembangunan pendidikan karakter dan spiritual bagi generasi muda.
Jurnalis Harianto