Sosialisasi yang dilaksanakan pada Senin (3/8) ini diikuti oleh 18 peserta yang terdiri atas asatidz, pengelola pesantren, serta santri. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Mudir MBS Al-Fajr, Ustadz Kusdiawan, bersama Ustadz Dayat dan Ustadz Wildan.
Program e-Mutabaah merupakan bagian dari inisiatif digitalisasi pengelolaan mutabaah hafalan Al-Qur'an yang dikembangkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Muhammadiyah Lumajang. Sistem ini dirancang untuk mendukung pencatatan ziyadah, murojaah, kualitas hafalan, kehadiran, catatan pembina, hingga tindak lanjut pembinaan dalam satu sistem yang lebih rapi dan mudah dipantau.
Dalam kegiatan sosialisasi, peserta diperkenalkan pada alur penggunaan sistem, mulai dari proses input data, penyimpanan, rekapitulasi otomatis, hingga penyajian informasi yang dapat membantu pembina memantau perkembangan hafalan santri secara lebih efisien. Mahasiswa juga menekankan pentingnya menjaga keamanan data pribadi serta penggunaan akses informasi secara bertanggung jawab.
Selain memperkenalkan teknologi yang digunakan, kegiatan ini juga membahas pentingnya keseragaman pencatatan. Istilah seperti ziyadah, murojaah, kualitas hafalan, kehadiran, dan tindak lanjut perlu memiliki standar yang sama agar data yang dihasilkan akurat serta mudah dipahami oleh seluruh pembina dan pengelola.
Setelah sosialisasi, sistem akan memasuki tahap uji coba untuk memastikan seluruh fitur dapat berfungsi dengan baik sebelum diterapkan secara rutin. Evaluasi juga akan dilakukan untuk mengukur efisiensi pencatatan, penyusunan rekap, pencarian riwayat hafalan, serta penyampaian informasi kepada wali santri.
Mahasiswa KKN juga menekankan bahwa keberhasilan e-Mutabaah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada komitmen pengelola dalam menerapkan prosedur kerja yang konsisten, menjaga keamanan data, serta melakukan pendampingan setelah sistem digunakan.
"Melalui e-Mutabaah, kami berupaya membantu MBS Al-Fajr menata pencatatan ziyadah, murojaah, kualitas hafalan, dan kehadiran dalam satu alur yang lebih tertib. Sistem ini tidak menggantikan peran asatidz, tetapi mendukung pemantauan dan penyampaian informasi kepada wali secara lebih efisien dengan tetap menjaga privasi data santri," ujar salah satu mahasiswa KKN.
Melalui inovasi ini, diharapkan pengelolaan pembelajaran tahfiz di MBS Al-Fajr semakin efektif, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Kolaborasi antara mahasiswa, pengelola pesantren, dan para pembina diharapkan mampu menghadirkan sistem pembelajaran Al-Qur'an yang lebih berkualitas sekaligus memperkuat komunikasi antara pesantren dan wali santri.
Jurnalis Ismail Hasan