LUMAJANG – Suasana belajar di TPQ Miftahul Jannah tampak lebih semarak ketika santri usia 2–5 tahun mengikuti kegiatan pengenalan huruf hijaiyah melalui media Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Program bertajuk "Lima Huruf Hijaiyah Sehari" ini menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang dilaksanakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Muhammadiyah Lumajang untuk membantu membangun fondasi membaca Al-Qur'an sejak usia dini.
Pembelajaran mengombinasikan metode Tilawati dengan aktivitas menebalkan huruf hijaiyah pada LKPD. Sebelum memulai latihan, santri diajak murojaah surat-surat pendek, mengenal kembali huruf hijaiyah melalui tanya jawab sederhana, serta menyanyikan lagu hijaiyah agar suasana belajar lebih menyenangkan dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Pada sesi inti, mahasiswa memperkenalkan lima huruf hijaiyah beserta cara pelafalannya sesuai makhraj. Setelah itu, setiap santri memperoleh LKPD berisi huruf putus-putus yang ditebalkan menggunakan pensil. Mahasiswa mendampingi setiap anak secara bergantian, mulai dari cara memegang pensil, mengikuti arah garis, hingga melafalkan nama huruf yang sedang dipelajari.
Pendampingan dilakukan secara individual mengingat sebagian besar santri masih berada pada tahap perkembangan motorik halus. Melalui pendekatan tersebut, anak tidak hanya belajar mengenali bentuk dan bunyi huruf hijaiyah, tetapi juga berlatih mengoordinasikan gerakan tangan dan meningkatkan konsentrasi selama proses belajar.
Selain memperkenalkan dasar-dasar membaca Al-Qur'an, kegiatan ini turut mengembangkan keterampilan motorik halus, koordinasi mata dan tangan, serta rasa percaya diri anak. Mahasiswa memberikan apresiasi berupa pujian kepada setiap santri yang berhasil menyelesaikan latihan sebagai bentuk motivasi agar mereka semakin bersemangat mengikuti pembelajaran.
Pada akhir kegiatan, mahasiswa mengajak santri mengulang kembali lima huruf hijaiyah yang telah dipelajari. Beberapa santri juga diberi kesempatan menunjukkan hasil latihan sambil menyebutkan nama huruf yang telah ditebalkan sebagai bentuk penguatan materi.
Salah seorang mahasiswa KKN menjelaskan bahwa program ini dirancang agar proses belajar Al-Qur'an berlangsung secara bertahap sesuai perkembangan anak.
"Kami mengenalkan lima huruf hijaiyah setiap pertemuan agar anak-anak belajar tanpa merasa terbebani. Melalui LKPD, mereka tidak hanya mengenal bentuk huruf, tetapi juga melatih kemampuan motorik halus yang menjadi bekal penting dalam proses belajar menulis dan membaca Al-Qur'an," ujarnya.
Program ini akan terus dilaksanakan selama masa KKN dengan menambahkan lima huruf hijaiyah baru pada setiap pertemuan. Pendekatan bertahap tersebut diharapkan membantu santri mengenal seluruh huruf hijaiyah secara sistematis sebelum memasuki tahap membaca Al-Qur'an menggunakan metode Tilawati. Melalui kolaborasi pembelajaran yang menyenangkan, mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Lumajang berharap tumbuh kecintaan anak terhadap Al-Qur'an sekaligus memperkuat kesiapan mereka dalam belajar pada jenjang berikutnya.
Jurnalis Intan Safana Nuraini