LUMAJANG – Kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar merupakan fondasi penting dalam pendidikan Islam sejak usia dini. Berangkat dari semangat tersebut, TPQ Daaruttabiin melaksanakan program pembinaan tahsin yang didampingi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Muhammadiyah Lumajang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an para santri.
Program yang berlangsung selama Juli 2026 ini menjadi salah satu bentuk pengabdian di bidang pendidikan Al-Qur'an. Pembelajaran difokuskan pada pembinaan kemampuan membaca sesuai kaidah tajwid, mulai dari pengenalan makhraj huruf hingga penerapan hukum bacaan dasar secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing santri.
Kegiatan dilaksanakan setiap hari pukul 15.00–16.30 WIB. Sebelum memasuki materi inti, seluruh santri mengawali pembelajaran dengan doa bersama, kemudian membaca surah-surah pendek atau Iqra' sebagai pemanasan. Selanjutnya, guru bersama mahasiswa KKN melakukan pendampingan secara bergiliran untuk mengevaluasi kemampuan membaca setiap santri sekaligus memberikan bimbingan sesuai kebutuhan mereka.
Pembelajaran tahsin dilakukan melalui metode demonstrasi dan praktik langsung. Guru terlebih dahulu memberikan contoh bacaan yang benar, kemudian santri menirukan secara bersama-sama sebelum membaca secara individu. Pada tahap ini, guru dan mahasiswa memberikan koreksi terhadap pelafalan huruf, makhraj, panjang pendek bacaan, serta penerapan hukum tajwid dasar agar santri terbiasa membaca Al-Qur'an secara fasih dan tartil.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan santri. Anak-anak yang masih berada pada tahap Iqra' mendapat pendampingan dalam mengenal huruf hijaiyah dan cara pengucapannya, sedangkan santri yang telah membaca Al-Qur'an diarahkan untuk meningkatkan ketepatan tajwid dan kelancaran membaca.
Selama proses pembinaan, terdapat sejumlah tantangan, di antaranya perbedaan kemampuan membaca antar-santri serta tingkat konsentrasi anak yang masih beragam. Selain itu, beberapa huruf hijaiyah yang memiliki makhraj khusus masih memerlukan latihan berulang agar dapat diucapkan dengan tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru dan mahasiswa menerapkan pendekatan yang komunikatif, sabar, dan menyenangkan sehingga suasana belajar tetap kondusif.
Meskipun demikian, antusiasme santri terlihat tinggi. Mereka mengikuti setiap sesi pembelajaran dengan semangat dan menunjukkan perkembangan yang positif dari waktu ke waktu. Peningkatan ketepatan pelafalan huruf, pemahaman tajwid dasar, serta keberanian membaca Al-Qur'an di hadapan guru menjadi indikator bahwa pembinaan tahsin yang dilakukan secara rutin memberikan hasil yang baik.
Melalui program ini, mahasiswa KKN tidak hanya berkontribusi dalam mendampingi proses pembelajaran, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dalam mengimplementasikan ilmu pendidikan Islam di tengah masyarakat. Sementara itu, bagi TPQ Daaruttabiin, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menumbuhkan generasi Qurani yang mampu membaca Al-Qur'an dengan baik, benar, dan penuh kecintaan terhadap kitab sucinya.
Jurnalis Haidar Ali Muzaki