LUMAJANG – Memasuki pekan kedua pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa STIT Muhammadiyah Lumajang mulai membangun kedekatan yang lebih erat dengan santri usia 2–6 tahun di TPQ Miftahul Jannah. Pendekatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman sekaligus mendukung keberhasilan proses pembelajaran Al-Qur'an pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Perubahan positif mulai terlihat selama kegiatan pendampingan berlangsung. Anak-anak yang pada awalnya masih malu dan canggung kini semakin percaya diri untuk menyapa, berkomunikasi, serta mengikuti arahan selama proses pembelajaran. Suasana kelas pun terasa lebih hidup dengan interaksi yang hangat dan penuh keceriaan.
Selain membangun komunikasi, mahasiswa mengajak santri mengikuti berbagai aktivitas sederhana yang dirancang untuk menumbuhkan keberanian, kedisiplinan, dan kebiasaan belajar bersama. Pendekatan dilakukan secara santai melalui percakapan dan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini sehingga mereka merasa aman dan nyaman berada di lingkungan TPQ.
Pekan kedua juga dimanfaatkan untuk mengenali karakter serta kemampuan awal setiap santri. Melalui proses observasi, mahasiswa memetakan tingkat konsentrasi, kemampuan mengikuti arahan, serta kesiapan belajar masing-masing anak. Hasil pengamatan tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif, termasuk pengenalan huruf hijaiyah dan pendampingan membaca Al-Qur'an menggunakan metode Tilawati.
Suasana kebersamaan yang semakin erat tampak dari antusiasme santri yang aktif berinteraksi, mengajak berbincang, dan menunjukkan senyum ceria selama kegiatan berlangsung. Kedekatan emosional yang mulai terbangun diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan sekaligus mendukung perkembangan kepercayaan diri anak.
Salah seorang mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Lumajang menyampaikan bahwa pekan kedua menjadi fase penting dalam membangun hubungan yang positif dengan para santri.
"Alhamdulillah, anak-anak mulai mengenal kami dan sudah terlihat lebih percaya diri saat berinteraksi. Kedekatan ini menjadi modal penting agar proses pembelajaran pada pertemuan berikutnya dapat berlangsung lebih efektif dan menyenangkan," ujarnya.
Melalui pendampingan ini, mahasiswa berharap hubungan yang telah terjalin dapat terus berkembang sehingga berbagai program pembelajaran, seperti pengenalan huruf hijaiyah, pembelajaran Al-Qur'an dengan metode Tilawati, dan kegiatan edukatif lainnya, dapat berjalan secara optimal. Pendekatan yang mengutamakan kedekatan emosional diharapkan mampu mendukung tumbuh kembang santri sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka terhadap belajar Al-Qur'an sejak usia dini.
Jurnalis Intan Safana Nuraini