LUMAJANG — Menonton film tidak selalu berhenti pada aktivitas hiburan. Hal tersebut dibuktikan melalui kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Muhammadiyah Lumajang bersama keluarga besar LKSA Putra-Putri Muhammadiyah Lumajang, Sukodono, pada 16 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang literasi sekaligus pembelajaran bagi peserta untuk memahami berbagai persoalan sosial melalui media film. Untuk memperkuat sesi diskusi, mahasiswa KKN menggandeng mahasiswi berprestasi UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Rayyan Auliya RA, yang hadir secara langsung dari Surabaya sebagai narator sekaligus pemantik diskusi.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual. Film digunakan sebagai media untuk mendorong peserta tidak hanya menikmati tayangan, tetapi juga memahami pesan, membaca persoalan sosial, mengajukan pertanyaan, serta berani menyampaikan pandangan.
Inisiatif tersebut berangkat dari gagasan mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Lumajang untuk menghadirkan aktivitas edukatif yang tetap menyenangkan bagi keluarga besar LKSA. Melalui pendekatan berbasis film, peserta diajak memperoleh wawasan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap isu-isu yang berkembang di lingkungan masyarakat.
Dalam tahap persiapan, mahasiswa KKN berperan sebagai fasilitator sekaligus bagian humas. Mereka melakukan komunikasi dan pendekatan secara langsung dengan pihak LKSA Putra-Putri Muhammadiyah Lumajang untuk membangun dukungan serta menentukan teknis pelaksanaan kegiatan.
Koordinasi juga dilakukan dengan Rayyan Auliya RA sebagai narator. Komunikasi yang dibangun secara intensif akhirnya memungkinkan narator hadir langsung dari Surabaya untuk memberikan perspektif dalam sesi diskusi setelah pemutaran film.
Kehadiran narator menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membantu peserta melihat berbagai pesan, konteks, dan persoalan yang terdapat dalam film dari sudut pandang yang lebih kritis.
Dengan demikian, sesi nobar tidak berhenti ketika layar film selesai. Peserta kemudian diarahkan untuk memahami isi tayangan, mempertanyakan berbagai persoalan yang muncul, serta menghubungkannya dengan realitas sosial yang ada di lingkungan sekitar.
Sebelum acara dimulai, mahasiswa KKN mempersiapkan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari tempat pelaksanaan, perangkat pemutaran film, tata ruang, hingga kebutuhan teknis lainnya. Peserta juga dikondisikan agar proses pemutaran dan diskusi dapat berlangsung tertib, nyaman, serta interaktif.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan pengondisian peserta. Setelah itu, peserta bersama-sama menyaksikan film Pesta Babi. Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan oleh narator mengenai pesan, konteks, dan berbagai persoalan yang dapat dikaji dari film tersebut.
Antusiasme peserta semakin terlihat ketika memasuki sesi tanya jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, maupun tanggapan terhadap materi yang telah dibahas. Interaksi tersebut menciptakan ruang pertukaran gagasan antara peserta, narator, dan mahasiswa KKN.
Suasana penuh antusiasme mewarnai agenda nonton bersama film Pesta Babi di ruang serbaguna LKSA Putra-Putri Muhammadiyah.
Sesi diskusi menjadi bagian penting dari keseluruhan kegiatan karena peserta tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi juga sebagai pihak yang aktif memberikan respons terhadap apa yang mereka saksikan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan untuk melihat sebuah informasi secara lebih kritis sebelum menyimpulkan atau memberikan penilaian.
“Kegiatan ini kami rancang bukan sekadar untuk menonton film, tetapi menjadikan film sebagai pintu masuk untuk membaca persoalan sosial dan melatih keberanian dalam menyampaikan pendapat. Kami berharap peserta dapat membawa pulang pengetahuan sekaligus sudut pandang baru dari proses menonton dan berdiskusi bersama,” ujar mahasiswa KKN yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Setelah diskusi selesai, acara ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Kegiatan kemudian diakhiri dengan foto bersama sebagai dokumentasi atas kolaborasi mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Lumajang, Rayyan Auliya RA dari UINSA Surabaya, serta keluarga besar LKSA Putra-Putri Muhammadiyah Lumajang.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Lumajang dalam menghadirkan literasi yang edukatif dan relevan bagi lingkungan LKSA. Kolaborasi dengan mahasiswi UINSA Surabaya juga menunjukkan bahwa ruang belajar dapat dibangun melalui sinergi dan pertukaran pengalaman antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong perubahan kebiasaan dari sekadar menonton menuju budaya membaca, bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Dengan pendekatan tersebut, film dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta sekaligus menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kesadaran sosial dan kemampuan berpikir kritis.
Bagi mahasiswa KKN, pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi belajar merancang kegiatan, membangun komunikasi, bekerja sama dengan berbagai pihak, serta menciptakan ruang edukasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Jurnalis Noval Eka Dian Pratama